LUWU TIMUR, KATABERITA.CO – Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan menanam 38 ribu batang mangrove di Kabupaten Luwu Timur, Rabu (20/7).

Penanaman pohon mangrove yang berlangsung di Desa Burau Pantai, Kecamatan Burau, itu dilakukan Cabang Dinas Kelautan Luwu Raya.
Upaya ini sebagai bentuk pelestarian lingkungan sekitar. Di mana melalui penanaman mangrove ini, bisa mencegah abrasi pantai di laut.
Termasuk mencegah penyerapan karbondioksida, menjaga kualitas air dan udara sebagai habitat ikan dan biota laut lain.
Juga bermanfaat sebagai pereduksi gelombang di pantai, serta memberikan dampak ekonomi yang luas dan menjadi sumber pendapatan bagi nelayan.
Penanaman pohon bakau ini melibatkan 20 orang dari Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Teluk Bone dan masyarakat Desa Burau yang peduli terhadap kelestarian ekosistem mangrove.
Kepala DKP Sulsel, Muhammad Ilyas mengatakan kegiatan ini sebagai upaya mengembalikan fungsi kawasan mangrove atau hutan bakau yang terus berkurang dan bahkan hilang.
Penanaman mangrove ini juga untuk merehabilitasi ekosistem pesisir. Di mana ini menjadi salah satu program prioritas Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman.
“Penanaman mangrove memang menjadi salah satu program Pak Gubernur untuk rehabilitasi ekosistem pesisir pantai. Mangrove merupakan salah satu ekosistem penting di pesisir, selain terumbu karang dan padang lamun”, ujarnya.
Ilyas menyebut mangrove juga dapat mengurangi pencemaran laut dengan berperan sebagai biofilter mereduksi logam berat dan nutrient dari darat yang akan masuk ke laut.
Fungsi lainnya, peningkatan oksigen dan penyerap karbon dari udara dan menyimpannya. Karbon bisa berkurang dengan adanya mangrove.
“Artinya tanaman bakau bisa merilis oksigen untuk seluruh masyarakat dunia. Ini program global menata bumi menjadi hijau,” ucapnya.
Ke depannya juga, dengan menanam pohon bakau atau mangrove menjadi potensi untuk pengolahan sumber makanan olahan.
Seperti potensi buah mangrove sebagai alternatif sumber pangan. Kemudian untuk industri, mangrove dapat didorong menjadi pewarna alam dalam industri pakaian.
Sementara, Kepala Cabang Dinas Kelautan (CDK) Luwu Raya, Abd Khalik mengatakan kegiatan ini merupakan kepedulian pemerintah provinsi dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove.
Selain itu juga dapat menjadi lahan mencari sumber daya perikanan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga.
Di samping itu, ekosistem mangrove dapat juga menjadi lokasi pemilahan ikan dan organisme perairan yang bernilai ekonomis.
“Serta menjadi konsen terhadap penjagaan kualitas udara yakni mencegah terjadinya pemanasan global,” tuturnya.

