0%
logo header
Selasa, 24 Juni 2025 16:39

Bank Indonesia Sulsel Ingatkan Potensi Guncangan Ekonomi Akibat Konflik Geopolitik Global

Bank Indonesia Sulsel Ingatkan Potensi Guncangan Ekonomi Akibat Konflik Geopolitik Global

Jajaran BI Sulsel saat menghadiri media gathering

JOGJA, KATABERITA.CO – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan memperingatkan peluang gangguan ekonomi akibat memanasnya konflik geopolitik di kancah internasional.

banner pdam

Deputi Kepala BI Sulsel, Wahyu Purnama, menyampaikan bahwa perang di Timur Tengah maupun Eropa tidak hanya membahayakan stabilitas keamanan global, tetapi juga dapat memicu inflasi dan melambatkan pertumbuhan ekonomi nasional—termasuk di Sulawesi Selatan.

“Perang Ukraina–Rusia saja sudah menekan inflasi global. Kini muncul lagi konflik Israel–Iran. Bila meluas dan melibatkan sekutu-sekutu mereka, efeknya terhadap harga minyak dan emas dunia bisa sangat besar,” ucap Wahyu saat Media Gathering yang digelar di Yogyakarta, Selasa (24/6).

Baca Juga : Program REWAKO 2026 Dimulai, BI Sulsel Targetkan UMKM Tembus Pasar Global

Wahyu bahkan menegaskan jika konflik berkembang menjadi perang nuklir, konsekuensinya akan luar biasa bagi semua negara.

“Amerika memiliki sekitar 5.200 senjata nuklir, Rusia lebih dari 5.800—jatuh satu bom nuklir saja berpotensi menghancurkan satu negara, dan itu adalah ‘kiamat ekonomi’,” tegasnya.

Indonesia, yang tergabung dalam sistem ekonomi global, tak luput dari potensi efek domino geopolitik tersebut. Salah satu dampak nyata adalah melonjaknya harga energi dan bahan pokok, yang otomatis meningkatkan tekanan inflasi domestik—termasuk di Sulsel.

Baca Juga : PESyar 2026: BI Sulsel Dorong Sinergi Keuangan Sosial dan Komersial Perkuat Ekosistem Halal

“Kalau Selat Hormuz ditutup karena perang, harga minyak dunia bisa melambung. Ini otomatis akan mengganggu stabilitas ekonomi kita,” tukasnya.

Meski inflasi di Sulsel per Mei 2025 masih berada di level rendah, sekitar 2 persen, BI Sulsel menilai risiko dari ketidakpastian global tetap serius.

Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029, BI menilai diperlukan langkah luar biasa di berbagai sektor, seperti manufaktur, pertanian, pertambangan, perdagangan, dan konstruksi. Di Sulsel sendiri, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,02 persen pada tahun 2024—terbilang tinggi, tetapi masih jauh di bawah capaian 8,3 persen pada 2013–2014.

Baca Juga : BI Sulsel Gandeng IFC Hadirkan Trend Hijab 2026, Dukung UMKM Modest Fashion

“Menuju pertumbuhan 8 persen itu tidak bisa dilakukan secara biasa-biasa saja. Kita perlu transformasi ekonomi yang agresif, hilirisasi industri, dan penguatan sektor riil,” jelasnya. (*/IRA)