0%
logo header
Kamis, 30 April 2026 11:47

DTM PINISI SULTAN dan SSIC 2026: BI Ungkap Tantangan Efisiensi Investasi, Sulsel Perkuat Strategi Hilirisasi

DTM PINISI SULTAN dan SSIC 2026: BI Ungkap Tantangan Efisiensi Investasi, Sulsel Perkuat Strategi Hilirisasi

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Dedicated Team Meeting (DTM) Forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (PINISI SULTAN) yang dirangkaikan dengan Kick-Off South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) 2026 di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (27/4).

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Dedicated Team Meeting (DTM) Forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (PINISI SULTAN) yang dirangkaikan dengan Kick-Off South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) 2026 di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (27/4).

banner pdam

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antarpemangku kepentingan dalam mendorong transformasi ekonomi Sulawesi Selatan melalui hilirisasi dan penguatan investasi berkelanjutan.

iklan pemprov sulsel

Acara tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, sejumlah kepala daerah, perwakilan Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Danantara Indonesia, serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Baca Juga : TEI 2026, Bank Indonesia Sulawesi Selatan Dorong UMKM REWAKO Perluas Pasar Global

Realisasi investasi Sulawesi Selatan pada 2025 tercatat tetap menunjukkan kinerja positif, baik dari sisi Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Meski demikian, posisi Sulawesi Selatan yang berada pada peringkat ke-20 secara nasional menjadi perhatian untuk terus memperkuat strategi peningkatan investasi di daerah.

Ke depan, akselerasi investasi dinilai perlu didorong melalui peningkatan daya tarik daerah, perbaikan iklim usaha, penyediaan infrastruktur pendukung, serta peningkatan kualitas proyek investasi. Hal ini sejalan dengan fokus transformasi ekonomi melalui hilirisasi dan pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga : Jangkau Pulau 3T, BI dan TNI AL Lepas Ekspedisi Rupiah Berdaulat Sulsel 2026

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menekankan pentingnya peningkatan efisiensi investasi di Indonesia maupun di daerah.

“Indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan negara peers seperti Malaysia dan Vietnam, yang menunjukkan efisiensi investasi perlu terus ditingkatkan. Di Sulawesi Selatan, tren ICOR hingga 2025 memang menunjukkan perbaikan, namun masih lebih rendah dibandingkan nasional,” ujar Rizki Ernadi Wimanda, Kamis (30/4).

Ia menambahkan, Sulawesi Selatan saat ini memiliki lebih dari 90 Investment Project Ready to Offer (IPRO), dengan sebagian telah berstatus clean and clear (CnC). Namun, realisasi investasi masih menghadapi sejumlah tantangan.

Baca Juga : BI dan Pemprov Sulsel Komitmen Perkuat Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Syariah Lewat BEKS 2026

“Beberapa tantangan utama antara lain kesiapan proyek yang belum optimal, keterbatasan pemanfaatan skema pembiayaan alternatif, serta adanya proyek yang belum sepenuhnya selaras dengan prioritas pembangunan nasional,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, menegaskan pentingnya reformasi tata kelola investasi daerah.

Hal tersebut mencakup penyediaan infrastruktur pendukung, penguatan aspek keamanan, serta kepastian berusaha guna mempercepat akselerasi investasi.

Baca Juga : Lewat EWAKO KAPOPOSANG, BI Sulsel Hadirkan Layanan Rupiah di Pulau 3T

Dalam forum tersebut, disepakati sejumlah rekomendasi dan rencana tindak lanjut untuk mendorong peningkatan realisasi investasi di Sulawesi Selatan. Di antaranya adalah penyelarasan proyek dengan agenda pembangunan nasional, khususnya pada sektor hilirisasi komoditas unggulan seperti nikel, tembaga, kelapa, rumput laut, garam, perikanan, kakao, dan kelapa sawit.

Selain itu, penguatan kesiapan proyek dilakukan melalui penyediaan infrastruktur yang memadai, pendampingan penyusunan feasibility study (FS) bekerja sama dengan lembaga kredibel, serta peningkatan promosi IPRO melalui forum investasi, pertemuan bisnis, dan kunjungan lokasi.

“Lewat forum ini juga, kita mendorong pengembangan skema pembiayaan alternatif, termasuk kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), pembiayaan melalui Danantara, serta kemitraan dengan investor strategis domestik maupun internasional,” tukas Jufri Rahman.

Baca Juga : Lewat EWAKO KAPOPOSANG, BI Sulsel Hadirkan Layanan Rupiah di Pulau 3T

Ke depan, sambung dia, sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan akan terus diperkuat guna meningkatkan kualitas perencanaan dan kesiapan proyek, mempercepat realisasi investasi, serta memastikan investasi yang masuk semakin produktif, berdaya saing, dan berkontribusi optimal terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan. (*/Ira)