MAKASSAR, KATABERITA.CO– Tragedi memilukan mengguncang dunia pendidikan di Kota Makassar.

Seorang siswa kelas 6 sekolah dasar berinisial MRA (15), meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat dugaan pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah siswa lainnya.
Insiden ini menimbulkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat luas. Sorotan tajam pun datang dari kalangan legislatif, yang mendesak agar peristiwa ini menjadi momentum evaluasi serius terhadap pengawasan dan pembinaan karakter di lingkungan sekolah.
Baca Juga : Dugaan Pelanggaran Etik, BK DPRD Makassar Keluarkan Keputusan untuk Dua Anggota Dewan
Anggota DPRD Kota Makassar dari Komisi D, Muhlis A. Misba, turun langsung ke rumah duka pada Sabtu (31/5/2025) lalu. Ia menyampaikan belasungkawa secara pribadi kepada keluarga korban dan menyerukan agar dunia pendidikan tidak abai terhadap aspek moral dan perilaku peserta didik.
“Ini peristiwa yang sangat menyedihkan. Kami dari Komisi D mengharapkan agar pihak sekolah, para guru, dan semua elemen pendidikan benar-benar memperhatikan karakter siswa. Jangan sampai tragedi seperti ini terulang,” tegas Muhlis, Minggu (01/06/2025).
Ia menambahkan bahwa pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama di tengah tekanan akademik. Menurutnya, guru tidak boleh sekadar fokus pada pelajaran formal, tetapi juga aktif membentuk kepribadian dan empati siswa.
Baca Juga : APBD 2026 Diketok Rp5,175 Triliun, Stadion Untia, TPA Antang dan Jembatan Barombong Masuk Prioritas
“Kepada para guru, saya minta untuk lebih giat menanamkan nilai moral. Ini sangat penting demi menjaga anak-anak kita dari kekerasan,” ujarnya.
Komisi D DPRD Makassar meminta agar aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini dan memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku.
“Kami ingin pelaku segera diamankan dan diproses hukum. Ini bukan sekadar insiden biasa, ini soal nyawa anak,” kata Muhlis A. Misba.
Baca Juga : Panja Banggar DPRD Makassar Sebut APBD 2026 Butuh Pendekatan Agresif
Ia juga mendesak Dinas Pendidikan Kota Makassar untuk melakukan evaluasi terhadap mekanisme pengawasan di sekolah serta menyiapkan kebijakan pencegahan kekerasan antar pelajar.
“Tidak boleh ada ruang toleransi bagi kekerasan. Dunia pendidikan harus jadi tempat aman bagi semua anak,” tutupnya.
Korban MRA, anak ketiga dari enam bersaudara, sempat dilarikan ke rumah sakit pada 26 Mei 2025, setelah mengeluh sakit di bagian dada dan kepala. Namun, pihak keluarga baru mengetahui bahwa MRA diduga mengalami tindak kekerasan setelah korban mengaku saat berada di ruang ICU.
Baca Juga : Dewan Makassar Terima Audiensi Mahasiswa Terkait Persoalan Pertanahan
Sang ayah, Ichal Jamaluddin, mengatakan awalnya korban hanya mengaku jatuh saat bermain bola. Namun, kondisi kesehatannya memburuk, dan gejala trauma mulai terlihat.
“Baju sekolahnya sobek, tapi dia bilang jatuh main bola. Istri saya mulai curiga karena dia sering mengeluh sakit dan terlihat ketakutan,” ungkap Ichal.
Saat berada di rumah sakit, MRA akhirnya mengakui bahwa ia telah dikeroyok oleh tiga siswa, masing-masing satu dari jenjang SMP dan dua lainnya dari sekolah dasar berbeda. Sayangnya, nyawa korban tak tertolong setelah beberapa jam dirujuk ke rumah sakit lain.
Baca Juga : Dewan Makassar Terima Audiensi Mahasiswa Terkait Persoalan Pertanahan
“Kami baru tahu dari anak saya sendiri, itupun saat dia sudah di ICU. Setelah itu, kondisinya makin kritis hingga akhirnya meninggal,” tambah Ichal, yang masih tak menyangka peristiwa tragis itu menimpa putranya.
Saat ini, pihak keluarga berharap keadilan ditegakkan, sementara warga sekitar rumah duka terus berdatangan menyampaikan simpati dan dukungan moral kepada keluarga almarhum. (Jie_e)

