0%
logo header
Jumat, 12 November 2021 20:52

Penimbunan Lahan Sirkuit Balap di Untia Batal, Rp16 Miliar Jadi SiLPA

Penimbunan Lahan Sirkuit Balap di Untia Batal, Rp16 Miliar Jadi SiLPA

Penimbunan lahan sirkuit balap di Kawasan Untia seluas 10 hektar dipastikan batal. Alhasil, Rp16 miliar anggaran yang sudah dialokasikan di APBD- P 2021 menjadi SiLPA.

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Penimbunan lahan sirkuit balap di Kawasan Untia seluas 10 hektar dipastikan batal.

Alhasil, anggaran sebesar Rp16 miliar yang sudah dialokasikan di APBD Perubahan 2021 menjadi Sisa Lebih Pembayaran Anggaran (SiLPA).

Hal itu ditegaskan Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Makassar, Husni Mubarak, saat dikonfirmasi, Jumat (12/11).

Baca Juga : Danny Pomanto Puji Kesuksesan Makassar Half Marathon, Sebut Event Internasional Paling Membanggakan

Dia mengatakan sempat mengajukan tender untuk penimbunan lahan sirkuit. Hanya saja ditolak Unit Layanan Pengadaan (ULP) dengan alasan waktu yang tidak memungkinkan.

“Kalau mau ditender percuma juga, karena proses tender satu bulan dan proses pengerjaan timbunan itu 90 hari. Jadi tidak cukup waktu,” kata Husni.

Dengan begitu, kata dia, anggaran yang sudah dialokasikan di APBD Perubahan sebesar Rp16 miliar akan dikembalikan ke kas daerah dan baru akan digunakan tahun depan.

Baca Juga : Partisipasi MHM 2024 Meningkat, Dispora Makassar: Semua Memenuhi Standar Nasional

“Rp16 miliar itu jadi SiLPA,” ujar dia.

Meski begitu, perencanaan untuk pembangunan sirkuit balap di Kawasan Untia tetap berjalan. Anggarannya Rp2 miliar.

“Perencanaannya tahun ini, pembangunan fisiknya nanti tahun depan,” beber dia.

Baca Juga : Dispora Makassar Tanam 2020 Bibit Pohon Bentuk Kompensasi Revitalisasi Lapangan Karebosi

Proyek pembangunan sirkuit balap di Kawasan Untia Kecamatan Biringkanayya sudah diperkenalkan Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto tepat di hari jadi Kota Makassar ke-414.

Program unggulan pemerintah kota itu diperkenalkan dengan nama ‘Untia International Ecocircuit’ atau arena balap International berbasis konservasi.