0%
logo header
Rabu, 27 April 2022 15:36

SMPN 3 Makassar Tingkatkan Kompetensi Guru Lewat IHT Sekolah Penggerak

SMPN 3 Makassar Tingkatkan Kompetensi Guru Lewat IHT Sekolah Penggerak

SMPN 3 Makassar melaksanakan In House Training (IHT) Sekolah Penggerak dengan menyasar guru kelas tujuh. Kegiatan ini berlangsung mulai 27-28 April 2022.

MAKASSAR, KATABERITA.CO – SMPN 3 Makassar melaksanakan In House Training (IHT) Sekolah Penggerak dengan menyasar guru kelas tujuh.

Kegiatan dengan tema ‘Instrumen Assesment Berdiferensiasi dan Program Berbasis Data’ tersebut berlangsung mulai 27-28 April 2022.

Kepala SMPN 3 Makassar, Kaswadi mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru guna mendukung Program Sekolah Penggerak.

Baca Juga : SMP Negeri 3 Makassar Wakili Sulsel di FL2SN Tingkat Nasional

Hal itu sesuai dengan lima intervensi Program Sekolah Penggerak yang telah dirancang Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Yakni pendampingan konsultatif dan asimetris, penguatan SDM di sekolah, pembelajaran dengan paradigma baru, perencanaan berbasis data, serta digitalisasi sekolah.

Kata Kaswadi, guru yang mengikuti program Sekolah Penggerak pasti memiliki kompetensi khusus. Salah satunya yakni melakukan assesment diagnostik sebelum memulai proses belajar mengajar.

Baca Juga : 2.016 Calon Peserta Didik Baru Berebut Masuk SMPN 3 Makassar Jalur Zonasi

“Jadi guru sebelum mengajar mengidentifikasi dulu seluruh siswa bagaimana kemampuan kognisi dan non-kognisinya, sehingga saat memberikan materi itu tidak seragam tapi berdiferensiasi,” jelas Kaswadi, Rabu (27/4).

Melalui kegiatan ini, pihak sekolah memberikan pelatihan kepada guru-guru khususnya kelas tujuh untuk meningkatkan kompetensi dalam merancang diferensiasi pembelajaran.

“Setelah didiagnosa akan kelihatan nanti mana anak yang cerdas cepat, sedang, dan lamban. Inilah nanti yang akan difasilitasi oleh guru dalam proses pembelajaran,” tuturnya.

Baca Juga : Sidak SMAN 4 Makassar, Disdik Sulsel Temukan Ini

Untuk bisa mengetahui kemampuan para siswa, lanjut dia, para guru tidak langsung memulai pembelajaran. Guru butuh waktu kurang lebih sepekan untuk melakukan observasi.

“Seperti halnya seorang dokter, mengobseravasi anak-anak, melakukan tes, wawancara, dan apa saja yang berkaitan dengan anak itu kita identifikasi sehingga pada saat mengajar tidak bingung,” jelas Kaswadi.