MAKASSAR, KATABERITA.CO – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mengandalkan inovasi Lontara+ dan SALAMA untuk bersaing dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Kedua inovasi tersebut menjadi representasi upaya Pemkot Makassar dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan berbasis inovasi.

Lontara+ atau Layanan Online Terintegrasi Warga Makassar yang dikembangkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) merupakan salah satu inovasi andalan dalam mendorong transformasi pelayanan publik berbasis digital.
Baca Juga : BRIDA Makassar Gelar Sidang TPM II Kajian Naskah Akademik Tata Kelola Invensi dan Inovasi
Sedangkan SALAMA atau Sahabat Anak Lewat Afirmasi tentang Aman Bencana merupakan inovasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menanamkan budaya sadar bencana bagi siswa SD-SMP di Kota Makassar.
Kedua inovasi ini dipaparkan langsung Wali Kota Munafri Arifuddin dalam tahapan penilaian presentasi kepala daerah pada ajang IGA 2026 kepada Kemendagri secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (3/11).
“Inovasi ini, kami terapkan untuk mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih efektif berbasis digital, sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi bencana,” kata Munafri.
Baca Juga : BRIDA Makassar Bahas Pemanfaatan Limbah Ikan dan Cangkang Biomassa untuk Biodiesel
Dalam presentasinya, Munafri menjelaskan bahwa inovasi Lontara+ yang dikembangkan Pemkot Makassar sejak 2025 hadir untuk menjawab berbagai persoalan pelayanan publik sekaligus mengatasi tantangan perkotaan melalui layanan digital yang terintegrasi.
Munafri mengungkapkan, sebelum Lontara+ dikembangkan, pelayanan publik di Makassar masih menghadapi sejumlah kendala.
Di antaranya, kualitas dan kecepatan layanan yang belum optimal, sistem digital yang belum terintegrasi, serta pengelolaan data antarorganisasi perangkat daerah (OPD) yang belum maksimal.
Baca Juga : BRIDA Makassar Dukung Inovasi AURA Mahasiswa Unibos ke Kompetisi Internasional di Seoul
Tantangan lainnya mencakup penanganan pengaduan masyarakat, pemerataan akses pelayanan, hingga persoalan infrastruktur perkotaan seperti banjir, genangan, dan kemacetan.
Selain itu, penguatan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana juga menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian melalui inovasi pelayanan publik.
“Setelah melihat kondisi internal, ternyata ada kurang lebih 300 aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri. Aplikasi ini dibangun untuk memudahkan pelayanan, tetapi harus kita ubah agar bisa terintegrasi dan memberikan kemudahan bagi masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
Dari kondisi tersebut, Pemkot Makassar kemudian menghadirkan Lontara+ sebagai super-apps yang mengintegrasikan berbagai layanan dan aplikasi pemerintah dalam satu platform digital.
Melalui Lontara+ masyarakat dapat mengakses berbagai informasi dan layanan pemerintahan dalam satu genggaman.
Platform ini juga dirancang untuk mempercepat pelayanan, mengintegrasikan data antar-OPD, memperluas akses layanan, serta mempercepat tindak lanjut pengaduan masyarakat.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
“Hadirnya inovasi Lontara+ tidak sekadar aplikasi digital, tetapi menjadi bagian dari perubahan sistem kerja pemerintahan agar lebih terhubung, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Pengembangannya turut diperkuat melalui regulasi daerah, di antaranya Perda Kota Makassar Nomor 9 Tahun 2023 tentang Inovasi Daerah dan Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 53 Tahun 2024 tentang Penetapan Nama Inovasi Daerah Tahun 2024.
Pemkot Makassar juga membangun ekosistem inovasi dengan melibatkan seluruh OPD, perusahaan daerah, tim inovasi, serta masyarakat.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
Penguatan kapasitas dilakukan melalui coaching, pendampingan, pengembangan desain inovasi, hingga evaluasi capaian secara berkelanjutan.
Hasilnya, Lontara+ mulai menunjukkan dampak terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik.
Berdasarkan data yang dipaparkan, platform ini telah mencatat lebih dari 76 ribu pengguna, dengan lebih dari 3,9 juta aktivasi aplikasi.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
Tidak hanya itu, Lontara+ juga telah menerima lebih dari 20 ribu aduan masyarakat.
Sebanyak 18.819 aduan di antaranya telah diselesaikan, dengan tingkat penyelesaian mencapai 91,7 persen.
“Ini menjadi bagian dari tujuh program strategis yang kami siapkan untuk memastikan digitalisasi berjalan terarah dan terukur,” katanya.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
“Kami ingin menjadikan Lontara+ sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah, terutama dalam hal informasi dan pelayanan,” sambung Munafri.
Selain itu, Munafri juga memperkenalkan inovasi non-digital yaitu SALAMA atau Sahabat Anak Lewat Afirmasi Aman Bencana yang diinisiasi BPBD Kota Makassar.
Berbeda dengan Lontara+, SALAMA menyasar penguatan literasi dan kesiapsiagaan bencana sejak usia dini melalui pendekatan edukatif dan psikologis.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
“Program ini dirancang agar anak-anak sekolah tidak hanya memahami langkah penyelamatan ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki kesiapan mental sehingga tidak mudah panik saat menghadapi situasi darurat,” terangnya.
Munafri menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang digunakan adalah metode Hypno-Shield, yakni pendekatan afirmasi positif berbasis hipnoterapi yang terintegrasi dengan psikologi untuk membangun mentalitas tangguh pada anak.
Melalui metode tersebut, anak-anak diberikan pemahaman kebencanaan dengan pendekatan yang lebih menyenangkan, sekaligus dilatih untuk tetap tenang dan memahami tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
Dalam pelaksanaannya, BPBD melibatkan Dinas Pendidikan, psikolog, Komunitas Hipnoterapi Makassar, tenaga pendidik, relawan, serta pihak sekolah.
Selain itu, personel BPBD juga hadir sebagai sahabat anak, sehingga edukasi kebencanaan tidak terasa kaku dan mudah dipahami.
“Jadi, anak-anak harus dibekali pengetahuan sejak dini. Mereka tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki kesiapan psikologis untuk menghadapi situasi tersebut,” paparnya.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
Inovasi SALAMA juga dirancang agar dapat direplikasi di sekolah maupun daerah lain dengan menyesuaikan karakteristik dan potensi risiko bencana setempat.
Dari implementasi program tersebut, tercatat sekitar 400 keluarga sekolah telah terlibat.
Sementara itu, tingkat pemahaman siswa terhadap langkah-langkah kesiapsiagaan bencana meningkat dari 45 persen menjadi 80 persen.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
“Tentu, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari hadirnya sebuah program, tetapi juga dari dampak dan manfaat,” tuturnya.
Karena itu, Pemkot Makassar terus mendorong kolaborasi lintas sektor, penguatan regulasi, serta keberlanjutan inovasi agar program yang dibangun tidak berhenti pada satu periode pemerintahan.
Munafri berharap inovasi ini tidak hanya berjalan selama masa pemerintahan sekarang, tetapi menjadi fondasi digitalisasi yang berkelanjutan.
Baca Juga : Bocah Tenggelam di Kanal Sinrijala Ditemukan Meninggal Dunia
“Yang paling penting, inovasi harus aplikatif, mudah digunakan, informatif, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutup Munafri. (*)

