
MAKASSAR, KATABERITA.CO— Pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) VIII KORPRI Tingkat Nasional Tahun 2026 di Kota Makassar tidak hanya diwarnai lantunan ayat suci Al-Qur’an, tetapi juga persembahan seni budaya khas Sulawesi Selatan.
Sebanyak 150 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Makassar tampil dalam tari kolosal bertajuk “Cahaya Qurani Ri Butta Mangkasara” yang dipersembahkan khusus pada malam pembukaan MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional 2026 di Makassar, Senin (24/8/2026).
Pertunjukan tersebut menjadi salah satu bentuk penyambutan Kota Makassar kepada para peserta dan kontingen dari berbagai daerah di Indonesia.
Sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Selatan yang berpadu dengan nilai-nilai Islam.
Tari kolosal ini digarap oleh koreografer Abdi Bashit dan Iin Yoesoef Madjid, dengan penataan musik oleh Munawir Amin dan Erwin Sulaiman.
Sementara penataan artistik dan narasi dipercayakan kepada Ilham Anwar.
Pertunjukan juga melibatkan kolaborasi dengan Tim Shalawat Forum Kajian Cinta Al-Qur’an Kota Makassar, sehingga unsur seni tari, musik, narasi, dan lantunan shalawat berpadu dalam satu pertunjukan.
Tidak hanya melibatkan 150 penari, persembahan tersebut turut didukung sekitar 25 pemusik serta kelompok pengajian Cinta Al-Qur’an Kota Makassar.
“Jadi persiapan pertunjukan dilakukan selama kurang lebih satu setengah bulan. Para penari yang merupakan ASN Pemerintah Kota Makassar menjalani latihan di bawah koordinasi Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemerintah Kota Makassar,” ucap Iin Yoesoef Majid.
Karya “Cahaya Qurani Ri Butta Mangkasara” membawa pesan tentang pertemuan antara falsafah hidup dan nilai-nilai luhur masyarakat Sulawesi Selatan dengan ajaran Islam.
Salah satu nilai budaya yang diangkat adalah falsafah Eppa/Appa Sulapaq, yang menjadi simbol dan bagian dari pandangan hidup masyarakat Sulawesi Selatan.
Nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam gerak, musik, narasi, dan keseluruhan konsep pertunjukan yang selaras dengan semangat religius MTQ.
“Melalui persembahan ini, para ASN Pemkot Makassar tidak hanya tampil sebagai aparatur pemerintahan tetapi juga mengambil bagian dalam memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat dan tamu dari berbagai penjuru Indonesia,” ungkapnya.
Tari kolosal ini sekaligus menjadi gambaran bahwa penyelenggaraan MTQ VIII KORPRI di Makassar tidak semata-mata menjadi ajang kompetisi keagamaan.
Tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan nilai-nilai Al-Qur’an, budaya, seni, dan semangat kebersamaan dalam bingkai kebhinekaan Indonesia. (*)

