MAKASSAR, KATABERITA.CO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar melibatkan tim ahli arborist dalam penataan pohon pada proyek revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin.
Langkah ini dilakukan agar pembangunan jalur pejalan kaki tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan ruang hijau kota.

Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan penataan vegetasi menjadi bagian penting dalam revitalisasi kawasan tersebut.
Karena itu, DLH menggandeng ahli arborikultur untuk melakukan kajian menyeluruh terhadap kondisi pohon, sistem perakaran, ruang tumbuh, hingga potensi konflik antara vegetasi dengan infrastruktur dan utilitas.
Baca Juga : Kolaborasi DLH-PD Pasar Makassar Raya, Kandangkan Sapi di TPA Tamangapa Tak Lagi Makan Sampah
Ahli arborikultur sekaligus praktisi arsitektur lanskap, Rully Wijaya, menjelaskan penanganan vegetasi dilakukan berdasarkan karakter masing-masing pohon dan kesesuaiannya dengan ruang tumbuh yang tersedia.
Menurut Rully, persoalan yang ditemukan di lapangan bukan semata-mata terkait jenis pohon, melainkan karakter sistem perakaran yang berpotensi menimbulkan konflik dengan infrastruktur di kawasan perkotaan.
“Ketapang kencana itu pohon yang akarnya ekspansif. Jadi sebenarnya pohonnya tidak salah karena itu merupakan karakter pertumbuhannya,” ujar Rully, Jumat (25/9).
Baca Juga : Kadis DLH Dampingi Wawali Makassar ke Jepang Bahas Makassar City Waste Management Policy
Ia menambahkan, penanaman pohon pada kawasan yang memiliki kepadatan utilitas tinggi perlu mempertimbangkan ruang tumbuh akar agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Revitalisasi pedestrian Kajaolalido sepanjang 427,9 meter dan Jalan Thamrin sepanjang 225 meter tidak hanya mencakup pembenahan trotoar, tetapi juga penataan utilitas, seperti tiang listrik, trafo, Penerangan Jalan Umum (PJU), hingga jaringan fiber optik. Dari 62 tiang fiber optik yang ada, akan dikonsolidasikan menjadi 17 tiang induk.
Dalam area pekerjaan tersebut, tercatat terdapat 80 pohon ketapang kencana, sembilan pohon mahoni berukuran besar, dan dua pohon berukuran kecil yang menjadi objek kajian arborist.
Baca Juga : KLH Puji Kinerja DLH, Progres TPA Membaik
Rully menjelaskan, pemotongan akar bukan solusi jangka panjang dalam penanganan konflik antara pohon dan infrastruktur.
“Kalau akarnya dipotong, kemudian trotoarnya diperbaiki, dalam waktu tertentu akar itu akan tumbuh lagi dan kembali membongkar trotoar. Karena itu dibutuhkan strategi penataan yang tepat,” katanya.
Menurutnya, salah satu solusi adalah mengganti pohon dengan jenis yang memiliki karakter akar lebih ramah terhadap infrastruktur, sekaligus mempertimbangkan penggunaan spesies pohon natif Sulawesi agar lebih adaptif terhadap lingkungan setempat.
Baca Juga : DLH Lakukan Sosialisasi Persampahan di Kecamatan Biringkanaya
“Secara teknis, pohon yang berkonflik dengan infrastruktur dapat diganti dengan jenis lain yang akarnya lebih sesuai. Sebisa mungkin dipilih pohon asli atau natif Sulawesi agar adaptasinya lebih cepat,” ujarnya.
Selain jenis pohon, desain pedestrian juga perlu memperhatikan ruang tumbuh akar, kebutuhan air, dan sirkulasi oksigen di dalam tanah.
“Yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukan sekadar lubang tanam, tetapi ruang bagi akar untuk tumbuh. Desain pedestrian harus tetap memungkinkan air dan udara masuk ke dalam tanah,” jelas Rully.
Baca Juga : DLH Lakukan Sosialisasi Persampahan di Kecamatan Biringkanaya
Ia mencontohkan penggunaan ruang tanah di bawah trotoar dan material berpori sebagai salah satu solusi agar akar dapat tumbuh tanpa merusak permukaan pedestrian.
Selain mengkaji konflik antara akar dan infrastruktur, tim arborist juga melakukan penilaian terhadap kondisi pohon-pohon tua di sekitar kawasan Karebosi.
Kajian tersebut dilakukan untuk memastikan aspek keselamatan masyarakat, terutama pada pohon yang memiliki rongga atau kemiringan yang berpotensi menimbulkan risiko.
Baca Juga : DLH Lakukan Sosialisasi Persampahan di Kecamatan Biringkanaya
Perwakilan arborist, Faris, menjelaskan bahwa pohon pengganti nantinya akan dipilih dari jenis yang lebih adaptif dan memiliki keterkaitan dengan ekosistem Sulawesi.
“Permasalahannya adalah konflik antara akar ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas yang ada. Karena itu, bukan fungsi penghijauannya yang dihilangkan, tetapi jenis pohonnya yang disesuaikan,” kata Faris.
Beberapa jenis pohon natif Sulawesi yang dipertimbangkan antara lain bitti (Vitex cofassus), padiasa (Kleinhovia hospita), serta jelatri (Elaeocarpus).
Baca Juga : DLH Lakukan Sosialisasi Persampahan di Kecamatan Biringkanaya
Jenis-jenis tersebut dinilai memiliki karakter perakaran yang lebih mudah dikendalikan dan sesuai untuk kawasan perkotaan.
DLH Makassar menegaskan, penataan vegetasi dalam revitalisasi pedestrian merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang publik yang nyaman, aman, sekaligus tetap menjaga fungsi ekologis kota.
Dengan pendekatan berbasis kajian arborist, keberadaan pohon di kawasan pedestrian diharapkan dapat mendukung kualitas lingkungan tanpa menimbulkan persoalan terhadap infrastruktur di masa mendatang. (*)

