0%
logo header
Sabtu, 04 Juli 2026 11:04

Angkat Semangat Kepahlawanan Pongtiku, Makassar Sabet Juara II Pentas Seni APEKSI 2026 Medan

Angkat Semangat Kepahlawanan Pongtiku, Makassar Sabet Juara II Pentas Seni APEKSI 2026 Medan

Kontingen Kota Makassar berhasil meraih Juara II pada ajang Pentas Seni Indonesia International Art Festival Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 yang berlangsung di Medan, 1-3 Juli 2026.

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Kontingen Kota Makassar berhasil meraih Juara II pada ajang Pentas Seni Indonesia International Art Festival Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 yang berlangsung di Medan, 1-3 Juli 2026.

banner pdam

Prestasi tersebut diraih melalui penampilan tari Lali Londong dari Sanggar Seni Yongdong. Di mana, tari ini mengangkat sebuah karya semangat kepahlawanan nasional Pong Tiku sekaligus merepresentasikan keberagaman budaya yang menjadi identitas Kota Makassar.

Tari Lali Londong mengusung tema “Heroes Diversity of Wanua Daeng”, yang menggambarkan Makassar sebagai kota multikultural dengan keberagaman budaya yang hidup harmonis.

Baca Juga : 150 Penari Binaan Disbud Makassar Bakal Hibur Presiden di Puncak HUT Kemerdekaan ke-81 di Istana Negara

Identitas tersebut terbentuk dari perpaduan empat etnis besar di Sulawesi Selatan, yakni Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar, yang berpadu dengan berbagai etnis lain dari Nusantara maupun mancanegara.

Nilai-nilai luhur Siri’ Na Pacce, yang mengajarkan tentang harga diri, kehormatan, solidaritas, dan empati, menjadi landasan utama dalam konsep garapan tari tersebut.

Karya ini mengisahkan perjuangan Pong Tiku, pahlawan nasional yang juga dikenal dengan nama Ne Baso, dalam memimpin perlawanan gerilya melawan pemerintah kolonial Belanda di Tana Toraja. Judul Lali Londong diambil dari nama benteng batu yang menjadi lokasi bersejarah sekaligus saksi perjuangan rakyat Toraja bersama Pong Tiku dalam mempertahankan tanah air, masyarakat, serta tradisi leluhur.

Baca Juga : Disbud Makassar Kenalkan Budaya Lewat Program ‘Anjas Ri Museum’

Dalam pementasan, koreografer menampilkan strategi perang tradisional yang memanfaatkan kondisi geografis pegunungan sebagai benteng pertahanan alami. Konsep tersebut mencerminkan filosofi masyarakat Toraja yang berpegang pada ajaran Aluk Todolo, kepercayaan leluhur yang menyatu dengan alam.

Selain menampilkan berbagai senjata tradisional seperti parang, keris, dan tombak, pertunjukan juga mengadaptasi kisah penggunaan Tirrik Lada, yakni ramuan air bercampur cabai yang dahulu digunakan sebagai senjata untuk melemahkan musuh.

Dalam koreografi, unsur tersebut divisualisasikan melalui penggunaan properti kipas sebagai simbol yang lebih dekat dengan budaya Makassar.

Baca Juga : Disbud Makassar Hadirkan Sao Raja Tana Daeng Festival 2026, Aliyah Dorong Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Pementasan ditutup dengan semboyan Toraja “Misa Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate”, yang berarti bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, sebagai pesan persatuan dan semangat kebangsaan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Andi Patiware, mengapresiasi pencapaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan meraih Juara II menjadi bukti bahwa seni dan budaya Makassar mampu tampil kompetitif sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Selatan di tingkat nasional.

“Alhamdulillah, raihan Juara II ini merupakan hasil kerja keras seluruh tim, mulai dari penata tari, penari, hingga seluruh pihak yang terlibat,” jelas Andi Patiware, Sabtu (4/7).

Baca Juga : Munafri-Aliyah Kompak Hadiri Penutupan Rakernas APEKSI XVIII, Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah

Ware–sapaan akrabnya–Tari Lali Londong tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga membawa pesan tentang keberagaman, persatuan, serta semangat kepahlawanan Pong Tiku yang menjadi bagian penting dari sejarah Sulawesi Selatan.

“Kami berharap prestasi ini semakin memotivasi generasi muda untuk mencintai, melestarikan, dan mengembangkan budaya daerah sebagai identitas bangsa,” ujarnya.

“Saya kira ini komitmen kuat kami dalam mempromosikan seni dan budaya lokal sebagai bagian dari diplomasi budaya serta memperkuat posisi Makassar sebagai kota multikultural yang menjunjung tinggi keberagaman dan nilai-nilai kearifan lokal,” pungkasnya. (*)