0%
logo header
Minggu, 16 Agustus 2026 17:33

Jelajah Sampah DLH Makassar Tuntas di 14 Kecamatan, 1,5 Ton Sampah Terkumpul

Jelajah Sampah DLH Makassar Tuntas di 14 Kecamatan, 1,5 Ton Sampah Terkumpul

Program Jelajah Sampah yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar tuntas dilaksanakan di 14 kecamatan. Dari rangkaian kegiatan tersebut, sebanyak 1.506,22 kilogram atau sekitar 1,5 ton sampah berhasil dikumpulkan.

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Program Jelajah Sampah yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar tuntas dilaksanakan di 14 kecamatan.

banner pdam

Dari rangkaian kegiatan tersebut, sebanyak 1.506,22 kilogram atau sekitar 1,5 ton sampah berhasil dikumpulkan.

Kegiatan terakhir digelar di Kecamatan Tamalanrea, Jalan Bumi Tamalanrea Permai, Minggu (16/8).

Baca Juga : Kadis DLH Dampingi Wawali Makassar ke Jepang Bahas Makassar City Waste Management Policy

Program ini menjadi bagian dari upaya DLH Makassar meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mengurangi serta mengelola sampah sejak dari sumber.

Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan Jelajah Sampah merupakan program edukatif dan kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah kecamatan dan kelurahan, RT/RW, hingga kader Posyandu dan kader KB.

“Jelajah Sampah Kota Makassar ini sifatnya edukasi dan kolaboratif. Kegiatannya melibatkan banyak pihak, mulai dari kecamatan, kelurahan, RT/RW, sampai seluruh kader Posyandu dan kader KB,” ujar Helmy.

Baca Juga : KLH Puji Kinerja DLH, Progres TPA Membaik

Berdasarkan rekapitulasi dari 14 kecamatan, sampah yang terkumpul terdiri atas 427,02 kilogram sampah organik, 514,56 kilogram anorganik, dan 564,64 kilogram residu.

Komposisi tersebut menunjukkan masih beragamnya karakteristik sampah di setiap wilayah.

Sejumlah kecamatan mencatat timbulan anorganik cukup tinggi, sementara wilayah lainnya didominasi sampah residu.

Baca Juga : DLH Lakukan Sosialisasi Persampahan di Kecamatan Biringkanaya

Kecamatan Mamajang menjadi salah satu wilayah dengan timbulan sampah terbesar, yakni 394,06 kilogram.

Dari jumlah tersebut, 338,4 kilogram merupakan residu.

Sementara Kecamatan Tamalate mencatat 220,48 kilogram sampah dengan komposisi anorganik mencapai 131 kilogram.

Baca Juga : DLH Makassar Kumpulkan 13,6 Kg Sampah dalam Aksi Jelajah Sampah

Adapun Kecamatan Ujung Tanah mengumpulkan 196 kilogram sampah, terdiri atas 76,6 kilogram organik, 109,2 kilogram anorganik, dan 10,2 kilogram residu.

Menurut Helmy, data tersebut menunjukkan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber.

Sampah yang masih dapat dimanfaatkan, kata dia, harus dipisahkan agar tidak tercampur dan berakhir menjadi residu.

Baca Juga : DLH Makassar Kumpulkan 13,6 Kg Sampah dalam Aksi Jelajah Sampah

“Pengelolaan sampah anorganik juga diarahkan ke Bank Sampah, sehingga hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang diteruskan kepada DLH untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan material yang mudah terurai diarahkan untuk diolah menjadi kompos melalui biopori, komposter, maupun fasilitas pengolahan organik yang tersedia.

Di sejumlah wilayah, sampah organik juga dimanfaatkan untuk pembuatan biopori dan pengolahan di Teba.

Baca Juga : DLH Makassar Kumpulkan 13,6 Kg Sampah dalam Aksi Jelajah Sampah

Sementara sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dipisahkan dan disalurkan melalui Bank Sampah maupun Bank Sampah Unit (BSU).

Adapun sampah residu yang tidak lagi dapat dimanfaatkan ditangani petugas dan armada kebersihan untuk selanjutnya dikelola sesuai mekanisme yang ditetapkan Pemerintah Kota Makassar.

Helmy menjelaskan, Jelajah Sampah tidak sekadar menjadi kegiatan pengumpulan sampah, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat mengenai berbagai metode pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.

Baca Juga : DLH Makassar Kumpulkan 13,6 Kg Sampah dalam Aksi Jelajah Sampah

Kegiatan indoor diisi edukasi dan pelatihan pengolahan sampah, seperti pembuatan kompos menggunakan biopori dan komposter, pengolahan sampah organik dengan maggot, hingga pembuatan eco-enzyme.

Sementara kegiatan outdoor meliputi talk show, diskusi persoalan persampahan, pameran produk daur ulang, aksi plogging, serta penimbangan sampah.

“Melalui Jelajah Sampah, masyarakat diajak mengenal lebih dekat persoalan sampah di wilayahnya sekaligus belajar bagaimana menjadi bagian dari solusinya,” jelas Helmy.

Baca Juga : DLH Makassar Kumpulkan 13,6 Kg Sampah dalam Aksi Jelajah Sampah

Ia menambahkan, rekapitulasi timbulan sampah dari setiap kecamatan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menentukan kebutuhan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, termasuk memperkuat Bank Sampah dan kapasitas pengolahan sampah organik.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung target Makassar Bebas Sampah 2029 melalui pengelolaan sampah yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat.

“Ini merupakan momentum kolaboratif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya pembatasan timbulan sampah,” ungkapnya.

Baca Juga : DLH Makassar Kumpulkan 13,6 Kg Sampah dalam Aksi Jelajah Sampah

Helmy berharap kebiasaan memilah sampah tidak berhenti setelah rangkaian Jelajah Sampah selesai, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan berakhirnya rangkaian di Kecamatan Tamalanrea, Jelajah Sampah telah masuk di 14 kecamatan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif seluruh masyarakat,” pungkasnya. (*)