Tinjau SPAM Cambaya, Munafri Siapkan 13 Titik Baru untuk Atasi Krisis Air

MAKASSAR, KATABERITA.CO — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyiapkan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di 13 titik tambahan untuk mengantisipasi persoalan ketersediaan air bersih yang berpotensi semakin meningkat saat musim kemarau.
Rencana tersebut disampaikan Wali Kota Munafri saat meninjau fasilitas SPAM atau PAMSIMAS di Kelurahan Cambaya, Kecamatan Ujung Tanah, Rabu (19/8).
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas air bersih yang telah dibangun Pemkot Makassar berfungsi secara optimal dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Khususnya bagi masyarakat yang selama ini berada di wilayah krisis air bersih.
“Saya datang langsung ke lokasi melihat SPAM ini. Tujuannya memastikan ketersediaan air pompa ini berjalan dan manfaat untuk warga disini,” ujar Munafri.
Fasilitas SPAM yang berada di wilayah RW 03 Kelurahan Cambaya ini menjadi salah satu upaya pemerintah kota dalam memperluas akses masyarakat terhadap air bersih.
Dalam kunjungannya, Munafri melihat langsung sarana sumur bor serta sistem distribusi air yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat.
Lima sumur bor menjadi sumber air bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Tiga di antaranya merupakan bantuan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar sebagai upaya memenuhi kebutuhan air bersih warga.
Munafri mengatakan, fasilitas SPAM tersebut sebelumnya telah diserahkan untuk dikelola secara mandiri dan swadaya oleh masyarakat.
“Tadi saya datang lihat SPAM ini, sekitar empat bulan berjalan, diberikan oleh PU kepada masyarakat untuk dikelola secara mandiri, secara swadaya,” ucapnya.
Munafri menyebutkan fasilitas tersebut awalnya diproyeksikan hanya melayani sekitar 83 rumah, namun dalam perkembangannya, jaringan air bersih tersebut telah mampu melayani hingga 109 rumah warga.
“Ini mengaliri, target awalnya kurang lebih hanya 83 rumah, tapi akhirnya menjadi 109 rumah yang mereka layani,” bebernya.
Lebih lanjut, ia menilai keberadaan SPAM menjadi salah satu langkah penting pemerintah kota dalam menghadapi ancaman kekeringan, terutama di kawasan yang secara geografis memang memiliki keterbatasan sumber air.
“Ini adalah salah satu antisipasi kita untuk bagaimana mengantisipasi kemarau panjang,” katanya.
Tidak hanya di Kelurahan Cambaya, pemerintah kota melalui Dinas PU juga telah merencanakan pembangunan fasilitas SPAM serupa di sejumlah wilayah.
Sedikitnya, terdapat 13 titik tambahan yang direncanakan untuk dibangun sebagai bagian dari upaya memperluas akses air bersih.
Pembangunan fasilitas tersebut akan diprioritaskan di wilayah-wilayah yang selama ini memang mengalami kesulitan air bersih, terlebih ketika memasuki musim kemarau.
“Di beberapa wilayah tahun ini, Dinas PU juga sudah merencanakan membuat SPAM seperti ini di 13 titik tambahan lagi yang harus kita maksimalkan di wilayah-wilayah yang sangat terdampak,” jelasnya.
Ia juga menyebut kondisi musim kemarau tahun ini perlu diantisipasi secara serius.
Sebab, berdasarkan perhitungan pemerintah, periode musim kemarau diperkirakan cukup panjang dengan kondisi yang relatif lebih kering dibandingkan biasanya.
“Hitungan kita ini lumayan panjang musim keringnya dan sangat kering. Memang dibutuhkan supporting, khususnya daerah-daerah yang pada musim biasa saja susah air, apalagi musim kering,” ungkap Munafri.
Karena itu, pemerintah kota akan melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang dinilai membutuhkan dukungan fasilitas penyediaan air bersih.
Ia juga meminta jajaran pemerintah kecamatan untuk memberikan masukan mengenai lokasi yang memiliki tingkat kebutuhan air bersih tinggi, sehingga pembangunan fasilitas SPAM berikutnya dapat dilakukan secara tepat sasaran.
“Makanya dari peninjauan ini, kita mau lihat juga di Cambaya dan melihat masukan dari Pak Camat, di mana lagi lokasi yang sangat membutuhkan untuk kita bisa buat,” tuturnya.
Dalam peninjauan tersebut, ia juga memastikan pola distribusi air dari fasilitas SPAM Cambaya berjalan dengan melibatkan masyarakat sebagai pengelola.
Ia menjelaskan, air yang dihasilkan dari sumur bor tersebut didistribusikan secara mandiri oleh warga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di kawasan sekitar.
“Didistribusikan, dilakukan secara mandiri oleh masyarakat,” ucapnya.
Munafri menyebut sistem pengelolaan berbasis masyarakat tersebut menjadi salah satu kekuatan dari program SPAM.
Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga diberikan ruang untuk mengelola fasilitas secara swadaya.
Bahkan, masyarakat yang membutuhkan air dapat mengambil air dengan membawa wadah atau jeriken untuk kemudian digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Warga yang mengelola sendiri,secara mandiri seperti itu untuk pengelolaannya,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan fasilitas air bersih seperti SPAM masih sangat dibutuhkan masyarakat, terutama bagi mereka yang belum memiliki akses air secara langsung ke rumah.
Selain itu, ia juga memastikan kualitas air yang dihasilkan dari sumur bor tersebut dalam kondisi baik dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
Sumur yang menjadi sumber air SPAM Cambaya memiliki kedalaman mencapai sekitar 180 meter.
“Kualitasnya bagus. Sumur kedalamannya 180 meter,” kata Munafri.
Kedalaman tersebut membuat sumber air yang digunakan berasal dari air tanah yang berada cukup jauh di bawah permukaan.
Ia pun sempat berseloroh mengenai kedalaman sumur tersebut yang menurutnya hampir menyerupai kedalaman sumber air yang digunakan dalam sistem penyediaan air berskala besar.
Dengan berfungsinya fasilitas SPAM Cambaya, pemerintah kota berharap masyarakat di kawasan tersebut memiliki sumber air alternatif yang dapat diandalkan, khususnya ketika pasokan air mengalami tekanan akibat musim kemarau.
Pemkot Makassar juga akan terus mengidentifikasi wilayah-wilayah yang membutuhkan fasilitas serupa sebagai bagian dari strategi menghadapi dampak kekeringan dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat berupa air bersih tetap terpenuhi.
“Langkah ini, menjadi bagian dari upaya pemerintah Kota memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan kondisi cuaca, terutama di kawasan yang secara rutin mengalami persoalan ketersediaan air saat musim kemarau,” tutup Munafri. (*)