UNHAS-Pemkot Makassar Bangun Kolaborasi Olah Sampah Organik Jadi Pakan Ayam Alope

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Pemerintah Kota Makassar membuka ruang kolaborasi dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam pengembangan pengolahan sampah terintegrasi melalui Program Low Carbon Development Initiative-Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF).
Kolaborasi tersebut secara khusus diarahkan pada kegiatan pengolahan sampah terintegrasi dengan pengembangan ayam Alope Unhas, dengan memanfaatkan maggot sebagai salah satu sumber protein untuk pakan ternak.
Hal tersebut dibahas dalam audiensi Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin bersama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Rumah Jabatan Wali Kota, Selasa (29/9).
Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof Syahdar Baba mengatakan pengelolaan sampah, khususnya sampah organik, masih menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani secara bersama-sama.
“Selama ini sampah itu masalah utama di Kota Makassar, apalagi yang organik. Maka kita butuh kolaborasi untuk pemilihan dan pengelolaan dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, Unhas menawarkan konsep ekosistem yang mengintegrasikan pengolahan sampah dengan budidaya maggot dan peternakan ayam Alope Unhas.
“Jadi, kami punya model ekosistem yang kami coba bangun, bagaimana mengelola sampah ini diintegrasikan dengan faktor-faktor yang lainnya,” kata Syahdar.
Guru besar bidang lingkungan itu menjelaskan, ayam Alope Unhas membutuhkan sumber protein yang tinggi.
Salah satu sumber protein tersebut dapat diperoleh dari maggot yang dibudidayakan dengan memanfaatkan sampah organik.
“Melalui skema ini, kami di Unhas akan mengambil peran pengelolaan sampah mulai dari sisi hulu hingga hilir,” tuturnya.
Lanjut dia, di bagian hulu, Unhas menyiapkan maggot atau bibit maggot untuk kemudian dibesarkan oleh kelompok-kelompok yang dibina Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Setelah maggot dibesarkan, Unhas akan mengambil dan mengolahnya hingga menjadi bahan pakan. Unhas juga akan membantu memastikan aspek pemasaran sehingga hasil budidaya maggot memiliki pasar yang jelas.
“Kami menawarkan Pak Wali bagaimana kalau ini dibikin ekosistemnya. Unhas menyiapkan pengolahannya, pengelolaan dan pemasaran maggotnya, pengolahannya sampai menjadi pakan, dan juga menyiapkan baby maggot,” jelasnya.
Dengan model tersebut, kelompok masyarakat tidak hanya diberikan pengetahuan untuk membudidayakan maggot, tetapi juga memperoleh kepastian pasokan bibit dan jalur pemanfaatan hasil budidayanya.
Prof Syahdar mengatakan skema itu penting untuk mencegah terjadinya hambatan dalam pengembangan budidaya maggot di masyarakat.
“Jangan orang bikin maggot semua, ternyata tidak ada yang beli. Pas mau dilanjutkan, tidak ada lagi tersedia bibitnya dan segala macam,” ungkapnya.
“Kami karena Unhas punya fungsi pendidikan dan segala macam, maka kami masuk di hulu dan hilirnya,” lanjutnya.
Untuk tahap awal, program tersebut ditargetkan memiliki sedikitnya 50 titik percontohan di Kota Makassar.
Syahdar mengatakan penentuan titik akan dilakukan melalui asesmen terlebih dahulu.
Pemerintah Kota Makassar nantinya akan memberikan sejumlah titik yang dinilai potensial untuk kemudian dikaji oleh tim Unhas sebelum masuk tahap pelaksanaan.
“Minimal 50, nanti kami asesmen. Kalau pak wali sudah memberikan titik-titiknya, kami akan asesmen. Dari hasil asesmen itu baru kita coba eksekusi,” katanya.
Dia menambahkan, konsep yang ditawarkan Unhas memiliki pendekatan berbeda dengan sejumlah model pengembangan maggot yang telah diterapkan di daerah lain.
Menurutnya, beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Jawa Barat, telah mengembangkan pengolahan maggot.
Namun, model yang dibangun Unhas bersama Pemkot Makassar akan diarahkan secara lebih terintegrasi dengan sektor peternakan.
“Kalau di Indonesia ada dikembangkan teman-teman di Jawa Barat, tapi tidak seperti model kemitraan ini,” terangnya.
“Kalau kita sudah terintegrasi dengan peternakan. Jadi tidak perlu lagi kita berpikir ke mana-mana, yang penting efisien, masuk menjadi pakan,” tambah akademisi Unhas itu.
Sedangkan, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyatakan mendukung penuh program tersebut.
Lanjut Munafri, kolaborasi ini diharapkan tidak hanya membantu mengurangi beban sampah organik yang masuk ke sistem pengelolaan sampah kota, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru berbasis pengolahan sampah, budidaya maggot, hingga penyediaan pakan ternak.
“Melalui pola ini, pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengurangan volume sampah, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem produktif yang melibatkan masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor peternakan,” singkat Munafri. (*)