Setelah 12 Tahun, Komisi A DPRD Makassar Dorong Pembaruan Perda Minol

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Komisi A DPRD Kota Makassar mendorong pembaruan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2014 tentang pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol (minol) yang telah berlaku selama 12 tahun.
Pembaruan Perda Nomor 4 Tahun 2014 dibahas dalam Rapat Paripurna Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Inisiatif Komisi A tentang Pengawasan dan Pengendalian, Pengadaan, dan Penjualan Minuman Beralkohol di Ruang Sipakatau Balaikota Makassar, Senin (2/11).
Juru Bicara Komisi A DPRD Kota Makassar, Rachmat Taqwa Qurais (RTQ) mengatakan Perda Nomor 4 Tahun 2014 perlu diperbarui agar selaras dengan perkembangan regulasi nasional, sistem perizinan berusaha, serta dinamika perdagangan minuman beralkohol saat ini.
Legislator PPP itu berpendapat pembaruan regulasi terkait minol menjadi penting untuk memperkuat pengawasan sekaligus memberikan kepastian hukum bagi pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.
RTQ menjelaskan perkembangan pola perdagangan, termasuk pemesanan melalui media sosial dan layanan pengantaran, menghadirkan tantangan baru dalam pengawasan peredaran minuman beralkohol di wilayah Kota Makassar.
Karena itu, diperlukan pengaturan yang lebih komprehensif, terutama terkait legalitas usaha, mekanisme pengawasan, pembatasan penjualan, hingga penanganan pelanggaran.
“Pengawasan harus dilaksanakan dengan memperhatikan pembatasan dan larangan perdagangan minuman beralkohol berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan,” kata RTQ.
“Termasuk verifikasi usia dan keterlacakan kegiatan usaha, dengan tetap memperhatikan kewenangan pemerintah pusat serta perlindungan data pribadi,” tambahnya.
Ia menambahkan, pengawasan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pembagian tugas dan kewenangan yang jelas antara perangkat daerah, khususnya bidang perdagangan, pelayanan perizinan, pariwisata, kesehatan, serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Selain itu, koordinasi dengan kepolisian, instansi pengawasan obat dan makanan, serta bea cukai juga diperlukan agar setiap temuan dapat ditindaklanjuti oleh instansi yang memiliki kewenangan.
Atas dasar tersebut, Komisi A memandang penggantian Perda Nomor 4 Tahun 2014 perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar melalui perubahan sejumlah pasal.
“Sebab, perubahan parsial berpotensi menyisakan ketidaksinkronan antara ketentuan lama dengan sistem pengaturan yang berlaku saat ini,” tuturnya.
Dalam penjelasannya, RTQ menguraikan bahwa berdasarkan naskah akademik, materi muatan Raperda tersebut mencakup tujuh kelompok pengaturan.
Pertama, ketentuan umum yang mengatur tujuan, kewenangan, serta pembagian tugas antarperangkat daerah.
Kedua, penggolongan minuman beralkohol dan kesesuaian legalitas usaha, termasuk penelitian lapangan, verifikasi teknis, serta berita acara sebagai dokumen pemenuhan persyaratan.
Ketiga, pengendalian lokasi, waktu, dan tata cara penjualan, termasuk pembatasan usia konsumen serta pengawasan minuman beralkohol tradisional sesuai peruntukan dan ketentuan hukum.
Keempat, pengawasan berbasis risiko melalui pemeriksaan kepatuhan dan sistem data pengawasan, dengan tetap memperhatikan hak pelaku usaha serta perlindungan data pribadi.
Kelima, tindak lanjut hasil pengawasan yang mencakup pembinaan, perintah perbaikan, sanksi administratif sesuai kewenangan, hingga pengamanan administratif barang yang harus dibedakan dari penyitaan untuk kepentingan penyidikan.
Keenam, koordinasi pengawasan dan pengendalian, termasuk pertukaran data serta penerusan temuan kepada instansi yang berwenang.
Ketujuh, ketentuan peralihan dan penutup, yang mengatur penanganan legalitas usaha yang telah terbit, penyelesaian permohonan yang masih berjalan, pencabutan Perda Nomor 4 Tahun 2014.
“Serta keberlakuan sementara peraturan pelaksanaan sepanjang tidak bertentangan dengan Perda baru,” terangnya.
Lebih lanjut, RTQ menegaskan pembentukan ranperda ini bertujuan memperbarui pengaturan yang telah berlaku, menyelaraskan legalitas usaha dengan sistem perizinan berusaha, sekaligus memperkuat perlindungan kesehatan, keselamatan, ketenteraman, dan ketertiban masyarakat.
Pihak Komisi A juga mendorong agar pembahasan ranperda melibatkan seluruh fraksi DPRD, Pemkot Makassar, perangkat daerah terkait, instansi vertikal, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat yang terdampak.
Ia menyarankan agar pemerintah kota menyiapkan data legalitas dan lokasi usaha, hasil pengawasan, pengaduan masyarakat, riwayat penyelenggaraan, serta kapasitas petugas sebagai bahan untuk menguji kelayakan substansi pengaturan.
Di samping itu, diperlukan kesiapan prosedur verifikasi lapangan, pemeriksaan, pengamanan administratif, penelusuran temuan, hingga penyelesaian pengaduan agar pelaksanaan aturan nantinya berjalan konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Keberhasilannya perlu melalui peningkatan kepatuhan, berkurangnya pelanggaran berulang, serta penyelesaian pengaduan dan tindak lanjut hasil pemeriksaan,” tegasnya.
Melalui usulan ranperda tersebut, ia berharap Kota Makassar memiliki landasan hukum yang lebih relevan dan terukur dalam mengawasi pengadaan, peredaran, serta penjualan minuman beralkohol.
“Regulasi ini, kita harapkan tidak hanya memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha, tetapi juga memastikan perlindungan masyarakat dan ketertiban umum tetap menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan pemerintahan,” tutup RTQ. (*)