Pemkot Makassar Perkuat Edukasi Warga, Pembenahan Sampah Dilakukan dari Hulu ke Hilir

Pemkot Makassar Perkuat Edukasi Warga, Pembenahan Sampah Dilakukan dari Hulu ke Hilir

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memperkuat pembenahan sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Langkah ini dilakukan melalui penataan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), penguatan bank sampah, pemanfaatan sampah organik, serta edukasi masyarakat untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan kota, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan citra Makassar sebagai kota yang terus berkembang.

“Pembenahan lingkungan harus menjadi prioritas karena wajah kota yang bersih dan sehat merupakan salah satu faktor yang membentuk kesan pertama bagi orang yang datang ke Makassar,” ujarnya, Kamis (29/10).

Menurut Munafri, pembenahan harus dimulai dari persoalan paling mendasar, termasuk penataan TPA Tamangapa yang selama ini menghadapi tekanan akibat tingginya timbunan sampah.

Dengan luas sekitar 21 hektare, kawasan tersebut membutuhkan pengelolaan yang lebih terencana untuk mencegah dampak lingkungan jangka panjang.

“Saya mengambil keputusan untuk memastikan hal yang paling jorok terlebih dahulu, dan itu yang harus dibenahi,” kata Munafri.

Salah satu langkah yang dilakukan Pemkot Makassar adalah menata area penimbunan melalui penerapan cover soil atau lapisan tanah penutup, sekaligus memperkuat sistem pengelolaan di kawasan TPA.

Pembenahan juga diarahkan pada pengolahan air lindi guna mencegah pencemaran lingkungan dan melindungi masyarakat sekitar.

Di sisi lain, Pemkot Makassar mendorong pengurangan sampah organik melalui pemanfaatan kembali material yang masih bernilai guna.

Munafri menyebut, sampah organik dari pasar-pasar di Makassar mencapai sekitar 30–50 ton per hari. Volume tersebut berpotensi diolah, antara lain menjadi pakan ternak, sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.

Pemkot juga mulai mengembangkan pemanfaatan gas metana dari timbunan sampah sebagai sumber energi alternatif.

“Yang lebih penting, hari ini kita sudah mulai dengan energi hijau dari metana yang ada di sampah itu. Potensinya bisa dimanfaatkan untuk masyarakat, termasuk sebagai energi untuk memasak sehari-hari,” jelasnya.

Meski demikian, Munafri menekankan bahwa pembenahan di hilir harus berjalan seiring dengan perubahan perilaku masyarakat di hulu.

Pemilahan sampah sejak rumah tangga menjadi kunci untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.

“Tentu, pembenahan di hilir tetap harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat di hulu,” katanya.

“Tanpa pemilahan sejak sumbernya, sampah yang masuk ke TPA akan terus menumpuk dan memperbesar risiko kelebihan kapasitas,” lanjut Appi.

Untuk mendorong partisipasi warga, Pemkot Makassar memperkuat peran bank sampah di tingkat kelurahan, RW/RT.

Melalui program ini, sampah yang masih memiliki nilai ekonomis, seperti plastik, dapat dikumpulkan dan dijual sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.

“Kalau masyarakat diminta memilah sampah, mereka harus melihat manfaatnya. Mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari penjualan plastik. Inilah yang harus kita bangun bersama,” ujarnya.

Munafri menilai, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari rumah tangga, pelaku usaha, pengelola kawasan komersial hingga sektor swasta.

Edukasi dan sosialisasi juga harus dilakukan secara berkelanjutan agar kesadaran menjaga kebersihan tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat.

Ia menegaskan, penanganan sampah merupakan persoalan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi dan keberanian dalam mengambil kebijakan.

Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dan partisipasi aktif masyarakat.

“Kalau kita tidak memulai, perubahan itu tidak akan pernah terjadi,” terang mantan CEO PSM itu.

Melalui pembenahan terintegrasi dari hulu hingga hilir, Pemkot Makassar berharap beban TPA dapat ditekan, kualitas lingkungan semakin terjaga, serta pengelolaan sampah mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Perubahan harus dimulai dari sumbernya, didukung sistem pengolahan yang memadai, dan dijalankan melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” tutup Munafri.

Berita Terkait
Baca Juga