Kemarau Intai Sulsel Mulai Mei, BMKG Ingatkan Kekeringan dan Karhutla

MAKASSAR. KATABERITA.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau mulai melanda pada Mei 2025 dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September, mendatang.
Forecaster Stasiun Klimatologi Sulsel, Chaterina Restu Malino, menyebut hampir 80% wilayah Sulsel akan mengalami puncak kekeringan pada periode tersebut.
“Musim kemarau diprediksi dimulai Mei dan memuncak pada Agustus–September. Sebanyak 79 persen wilayah Sulsel akan mengalami dampak signifikan,” kata Chaterina, Jumat (11/4).
Kemarau tak datang serentak. Beberapa daerah seperti Makassar, Takalar, Jeneponto, serta sebagian Gowa, Maros, Pangkep, dan Barru akan lebih dulu mengalami musim kering sejak Mei.
Juni menyusul Selayar, sebagian besar Maros, Pinrang, Toraja Utara, dan Palopo.
“Memasuki Juli, giliran Enrekang, Tana Toraja, Luwu, Sidrap, Wajo, dan Soppeng menyusul,” lanjutnya.
Sementara Agustus membawa kemarau ke Sinjai dan sebagian wilayah Bone, Luwu Raya, serta Wajo.
BMKG mencatat sebagian wilayah mengalami pergeseran pola dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Wilayah utara seperti Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Toraja Utara diperkirakan akan lebih cepat mengalami kemarau, dengan tingkat kekeringan yang lebih tinggi dari biasanya.
“Beberapa wilayah bahkan akan mengalami musim kemarau di bawah normal atau lebih kering, khususnya di Luwu Raya, Toraja, dan sebagian Sidrap dan Wajo,” ujar Chaterina.
Sedangkan daerah seperti Takalar, Gowa, Maros, dan Sinjai justru akan mengalami kemarau lebih basah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah agar siaga menghadapi ancaman kekeringan, krisis air bersih, berkurangnya pasokan irigasi, hingga risiko meningkatnya kebakaran hutan dan lahan.
BMKG merekomendasikan langkah mitigasi lintas sektor. Petani disarankan memilih varietas tanaman tahan kering dan mengatur pola tanam.
Masyarakat juga diimbau bijak dalam menggunakan air, menjaga hidrasi, serta menghindari aktivitas berat saat siang hari.
Di sektor kebencanaan, BMKG mendorong penggunaan sistem peringatan dini dan peningkatan patroli serta sosialisasi bahaya karhutla.
“Musim kemarau bukan hanya tentang cuaca panas, tapi juga potensi krisis jika tidak disiapkan dengan baik,”tegas Chaterina (Jie_e).