DLH-Disdik Makassar Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Sekolah

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar memperkuat pengelolaan sampah berbasis sekolah melalui sinergi dengan bank sampah.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara bank sampah dan satuan pendidikan dalam kegiatan Asesmen Kepala Sekolah SD-SMP di Hotel Claro Makassar, Senin (21/9).
Wali Kota Makasv csar, Munafri Arifuddin mengatakan kerja sama tersebut akan diterapkan secara teknis oleh Disdik bersama DLH melalui pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Sampah anorganik yang dikumpulkan di sekolah akan disalurkan ke bank sampah untuk dipilah sehingga memiliki nilai ekonomi. Hasil penjualanya bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan.
“Untuk sampah-sampah anorganik ini yang akan terhubung dengan bank sampah, hasilnya bisa dijual. Hasil penjualannya bisa dipakai untuk sekolah,” kata Munafri.
Selain mengurangi sampah yang dibuang ke TPA Tamangapa, program ini juga mengedukasi siswa untuk terbiasa memilah dan mengolah sampah sejak dini.
Munafri meminta setiap sekolah menyediakan tempat sampah berdasarkan jenisnya. Sampah organik, anorganik, dan residu. Tujuannya, agar anak-anak dapat membiasakan diri memilah sampah dalam aktivitas sehari-hari.
“Perlu edukasi siswa sejak dini, artinya setiap pagi semua anak-anak ini dibiasakan membawa sampah dari rumah, atau di jalan. Semua anak murid ini harus mampu menyimpan sampah-sampah sesuai dengan jenisnya,” imbuh Munafri.
Ia mencontohkan, sampah organik seperti kulit buah ditempatkan pada wadah organik. Botol minuman kemasan dimasukkan ke tempat sampah anorganik, sedangkan sampah residu ditempatkan sesuai kategorinya.
Menurutnya, pembiasaan tersebut akan lebih mudah dibentuk sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah.
Jika dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun, kebiasaan memilah sampah diharapkan terbawa hingga mereka kembali ke lingkungan masyarakat.
“Kalau anak-anak ini sudah dididik dari sekolah, Insya Allah dalam kehidupan sehari-harinya ini akan berjalan dan menular dengan baik,” kata Munafri.
Lebih lanjut, Munafri menyebutkan bahwa siswa-siswi juga dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga.
Pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah diharapkan dapat diterapkan di rumah sekaligus mengajak orang tua membiasakan memilah sampah.
“Kalau anak-anak SD selama enam tahun melakukan ini, ini akan menjadi kebiasaannya. Anak SMP selama tiga tahun akan begitu. Sehingga pada saat mereka kembali ke masyarakat, perilaku inilah yang akan mereka bawa,” tegas Munafri.
Tidak hanya sampah organik dan anorganik yang diarahkan memiliki nilai manfaat. Appi juga mendorong setiap sekolah mengembangkan sistem pengolahan sampah umumnya sesuai dengan kondisi masing-masing.
Pengelolaan tersebut dapat dilakukan melalui biopori, teba, eco-enzyme, maupun metode lain yang dapat mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Hasil pengolahan sampah organik tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung pengembangan urban farming di lingkungan sekolah.
“Nah, ini nanti akan dipakai untuk membuat yang namanya urban farming di sekolah,” ujarnya.
Jelasnya, kata Munafri, program tersebut nantinya akan melibatkan sejumlah perangkat daerah agar pengelolaan sampah lingkungan di sekolah dapat terintegrasi dengan pengembangan pangan dan ekonomi.
Sekolah juga perlu didorong agar menghasilkan inovasi yang berbeda dan tidak hanya menjalankan pola urban farming yang sama.
“Kalau di sekolah ini jangan berpikir yang biasa-biasa saja. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan di sekolah yang berbeda,” tuturnya.
Munafri melihat konsep tersebut dapat menjadi stimulus bagi terbentuknya perputaran ekonomi baru berbasis lingkungan di satuan pendidikan.
Ia pun meminta kepala sekolah mengambil peran penting dalam memastikan program berjalan konsisten, termasuk membangun kebiasaan memilah sampah setiap hari.
Munafri juga menegaskan, penguatan pengelolaan sampah di sekolah merupakan bagian dari pembenahan rantai pengelolaan sampah di Kota Makassar.
Pembenahan harus dimulai dari sumbernya, termasuk sampah rumah tangga dan sekolah, sebelum dibuang ke TPA Tamangapa.
“Ini kita lakukan karena sudah memulai membenahi tempat yang paling jorok dalam sebuah rantai perputaran sampah di Kota Makassar,” katanya.
Pembenahan TPA Tamangapa juga terus dilakukan agar tidak lagi menerima seluruh jenis sampah yang datang dari rumah tangga. Sampah yang masuk diharapkan telah melalui proses pemilahan dan pengelolaan dari sumbernya.
Untuk itu, Mnafri membuka peluang agar pengelolaan sampah organik di sekolah melibatkan masyarakat sekitar.
Sampah organik dari rumah-rumah di sekitar sekolah maupun daun yang dikumpulkan petugas kebersihan dapat diarahkan untuk mendukung proses pengolahan organik.
Dengan demikian, kerja sama sekolah dan bank sampah diharapkan tidak berhenti pada pemilahan sampah, tetapi berkembang menjadi ekosistem pengelolaan lingkungan yang melibatkan sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
“Ini kegiatan-kegiatan yang bertujuan benar-benar untuk membawa anak-anak kita ke dalam sebuah perilaku yang baru,” tutur Munafri.
Sementara, Kepala Disdik Kota Makassar, Achi Soleman kerja sama antara sekolah dan bank sampah diarahkan untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah sejak dini.
“Melalui penandatanganan kerja sama ini, kami berharap terbangun komitmen bersama antara bank sampah dengan sekolah, di mana sekolah menjadi tempat tumbuhnya budaya peduli lingkungan,” kata Achi.
Lebih lanjut, Achi menyebutkan ada sejumlah tujuan yang ingin dicapai melalui kolaborasi tersebut.
Di antaranya membangun sinergi antara sekolah dan bank sampah, meningkatkan kesadaran warga sekolah terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta membiasakan peserta didik memilah sampah sejak dini.
Selain itu, program tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan dan pengelolaan sampah.
“Harapannya dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan,” harapnya.
Ia juga berharap sinergi antara sekolah, bank sampah, Dinas Lingkungan Hidup, Dewan Lingkungan, dan berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat sehingga gerakan peduli lingkungan menjadi bagian dari kehidupan satuan pendidikan.
“Kami berharap kerja sama ini menjadi langkah nyata untuk membangun sekolah yang bersih, sehat, peduli lingkungan, sekaligus mendidik generasi yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan,” tutup Achi.
Diketahui, assesmen tersebut diikuti 464 peserta yang terdiri atas 314 kepala sekolah SD negeri, 55 kepala sekolah SMP negeri, dan 95 kepala sekolah SMP swasta.