Disbud Makassar Kenalkan Budaya Lewat Program ‘Anjas Ri Museum’

MAKASSAR, KATABERITA.CO — Dinas Kebudayaan (Disbud) Makassar menggagas inovasi bertajuk Anjas Ri Museum (Antar Jemput Anak Sekolah ke Museum Kota Makassar). Itu, sebagai upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan budaya lokal sejak dini.
Program tersebut dirancang dengan konsep mengantar dan menjemput peserta didik untuk berkunjung langsung ke Museum Kota Makassar.
Melalui kunjungan itu, para pelajar diperkenalkan pada berbagai koleksi benda bersejarah, jejak peradaban, serta kekayaan budaya yang menjadi identitas Kota Makassar.
Menariknya, pelaksanaan program ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Disbud Makassar mengoptimalkan kolaborasi dengan berbagai pihak agar program edukasi tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa membebani keuangan daerah.
Kepala Disbud Makassar, Andi Patiware, mengatakan program Anjas Ri Museum lahir dari keinginan untuk menghadirkan pembelajaran sejarah dan budaya secara langsung kepada anak-anak melalui pengalaman berkunjung ke museum.
“Selama ini orang tua identik mengantar dan menjemput anak ke sekolah. Melalui program Anjas Ri Museum, kami ingin menghadirkan pengalaman berbeda dengan mengantar dan menjemput anak-anak untuk belajar langsung di Museum Kota Makassar,” ungkap Andi Patiware, Jumat (30/7).
“Mereka dapat mengenal sejarah, budaya, serta melihat berbagai koleksi peninggalan yang menjadi bagian dari perjalanan Kota Makassar,” tambahnya.
Mantan Camat Ujung Pandang ini menjelaskan, museum harus menjadi ruang belajar yang menarik dan mudah diakses oleh masyarakat, khususnya kalangan pelajar.
Dengan melihat langsung koleksi dan peninggalan sejarah, diharapkan anak-anak memiliki pemahaman yang lebih kuat terhadap identitas budaya daerahnya.
Andi Patiware menambahkan, pada tahap awal program ini menyasar peserta didik di sekolah-sekolah. Namun, ke depan cakupannya akan diperluas agar semakin banyak kelompok masyarakat yang dapat merasakan manfaat edukasi museum.
“Tahap awal kami fokus mengajak anak-anak sekolah. Selanjutnya, program ini juga akan menyasar anak-anak penyandang disabilitas, anak-anak di panti asuhan, anak jalanan, dan kelompok masyarakat lainnya agar mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk belajar sejarah dan budaya di museum,” ujarnya.
Melalui inovasi Anjas Ri Museum, Disbud Makassar berharap museum tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, melainkan menjadi ruang edukasi yang hidup, inklusif, dan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah, budaya, serta jati diri Kota Makassar. (*)