Balitbangda Teliti Sistem Drainase, Temukan Daerah Rawan Banjir di Makassar

MAKASSAR, KATABERITA.CO- Revitalisasi sistem drainase menjadi bahan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Makassar.
Diseminasi hasil digelar di hotel Arthama, Rabu (12/10). Penelitian ini dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tallo, tepatnya mulai dari kolam regulasi Nipa-nipa hingga ke muara.
Peneliti, Mukhsan Putra Hatra mengatakan, penelitian ini menggunakan daya curah hujan yang berpengaruh pada daerah tersebut. Yakni Stasiun Senre dan Tamangapa Kassi mulai tahun 1995 sampai 2019.
“Dari hasil itu didapat hidrograf banjir sub DAS Mangalarang dengan metode Nakayasu,” ucapnya di Hotel Arthama, Rabu (12/10).
Dari hasil pemetaan daerah rawan banjir Makassar, luas daerah yang terdampak banjir berdasarkan kecamatan yakni Kecamatan Manggala 6,48 km2.
Kecamatan Rappocini 0,31 km2, Panakkukang 4,24 km2, Tallo 3,37 km2, Tamalanrea 11,59 km2, Biringkanaya 0,01 km2.
“Sehingga total luas daerah terdampak banjir sebanyak 26 km2,” ungkapnya. Melihat hal tersebut diperlukan revitalisasi sungai Tallo dengan kolam retensi.
Dengan adanya kolam retensi, diharapkan bisa memperlambat pertemuan antara air pasang dengan debit banjir dari hulu.
Sehingga daerah terdampak banjir mengalami perubahan, dimana Kecamatan Manggala sisa 4,94 km2.
Kecamatan Rappocini 0,05 km2, Panakkukang 0,61 km2, Tallo 0,92 km2, Tamalanrea 1,77 m2, Biringkanaya 0,01 km2.
“Sehingga total luas daerah terdampak banjir sisa 8,30 km2 dari 26 km2 sebelum adanya kolam retensi,” paparnya.
Kesimpulan dari penelitian ini ialah debit banjir hulu yang masuk ke dalam Sungai Tallo dibagi menjadi 2 sub DAS, sub DAS Tallo hulu dan sub DAS Mangalarang.
Debit banjir masing-masing sebesar Q50=523,76 m³/det dan Q50= 886,82 m³/det.
Adapun solusi untuk mengatasi banjir sungai Tallo dengan sistem drainase berwawasan lingkungan yaitu dengan rencana pembangunan kolam retensi hilir.
Dengan volume tampungan total normal sebesar 2,48 juta m³ dan tampungan maksimum sebesar 5,31 juta m³. Dapat direduksi sekitar 17,7 km² luas daerah terdampak banjir.
Kepala Balitbangda Makassar, Andi Bukti Djufrie mengutarakan, lewat hasil penelitian ini Pemkot Makassar bisa lebih mudah dalam melakukan mitigasi.
“Terutama dalam hal perbaikan drainase dan jaringan air lainnya,” katanya. Serta rancangan untuk revitalisasi kanal sudah bisa lebih nampak. (*)