Arifin Manggau Dapat Nomor Urut 5 Pilrek UNM: Filosofi Mallise

Arifin Manggau Dapat Nomor Urut 5 Pilrek UNM: Filosofi Mallise

MAKASSAR, KATABERITA.CO – Pemilihan Rektor (Pilrek ) Universitas Negeri Makassar (UNM) memasuki tahapan pengundian nomor urut para calon.

Agenda ini berlangsung di Sekretariat Senat UNM, Menara Pinisi, Jalan AP Pettarani, Makassar, Rabu (28/10).

Hasilnya, tujuh calon rektor UNM periode 2027–2031 telah mendapatkan nomor urut. Prof Sukardi Weda yang memperoleh nomor urut 1. Prof Andi Aslinda nomor urut 2, Prof Eko Hadi Sujiono nomor urut 3, dan Prof Suwardi Annas nomor urut 4.

Selanjutnya, Arifin Manggau mendapatkan nomor urut 5, Prof Hasmiyati nomor urut 6, serta Prof Ismunandar nomor urut 7.

Calon Rektor UNM Arifin Manggau, menilai nomor urut lima yang didapatkan bukan sekadar angka dalam kontestasi pemilihan rektor.

Wakil Rektor III UNM ini memaknainya melalui filosofi budaya Bugis-Makassar dan perspektif seni musik yang selama ini dekat dengan perjalanan hidupnya.

Dalam pandangan Deng Iping–sapaan akrab Arifin Manggau– angka lima bukan sekadar identitas untuk membedakan kandidat. Angka itu memiliki makna kultural yang lekat dengan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

“Nomor lima dalam perhitungan pananrang wettu di Bugis-Makassar berarti mallise,” kata Arifin.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, kata lima juga merujuk pada anggota tubuh berupa tangan. Makna ini melahirkan filosofi tentang sesuatu yang dapat digenggam, termasuk harapan atas rezeki dan hasil dari sebuah ikhtiar.

Ungkapan ‘naparilimai dalle’na’ turut dikaitkan dengan simbol rezeki yang berada dalam genggaman. Filosofi tersebut menjadi salah satu cara memaknai angka lima sebagai harapan agar usaha yang dilakukan membuahkan hasil.

Angka lima juga dikenal dalam sejumlah tradisi masyarakat Bugis-Makassar, termasuk penentuan waktu baik dalam kegiatan tertentu. Dalam tradisi pembuatan perahu, angka-angka tertentu menjadi bagian dari perhitungan yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain melalui tradisi lokal, Arifin memaknai angka lima dari sudut pandang lain yang dekat dengan perjalanan hidupnya, yakni seni musik.

Ia dikenal sebagai seniman sekaligus Ketua Dewan Kesenian Kota Makassar. Dalam teori musik, angka lima merujuk pada nada sol dalam tangga nada diatonis. Nada tersebut memiliki posisi penting dalam susunan tujuh nada, bersama do, re, mi, fa, la, dan si.

Bagi Arifin, nada sol dapat menjadi simbol penyeimbang di antara nada-nada lainnya.
Perpindahan dari satu nada ke nada lain menghadirkan dinamika yang membuat musik memiliki karakter dan warna tersendiri.

“Sol atau nada lima memiliki peran penyeimbang,” bebernya.

Pengalaman di bidang seni turut memberi warna pada cara Arifin memandang kontestasi pemilihan rektor. Ia membawa pesan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menghilangkan ruang dialog dan kebersamaan di lingkungan kampus.

Pesan itu terangkum dalam tagline yang diusungnya, ‘Sama-Samaki’. Ungkapan tersebut menjadi ajakan untuk membangun UNM melalui keterlibatan bersama, bukan dengan mengandalkan satu pihak saja.

“UNM terlalu besar untuk dibangun sendiri,” demikian pesan Arifin.

Ia menekankan pentingnya saling merangkul agar kemajuan kampus menjadi ikhtiar bersama seluruh unsur sivitas akademika. Semangat tersebut dipertegas melalui kalimat, “Berbeda pilihan adalah keniscayaan, menjaga persaudaraan adalah kedewasaan.”

Bagi Arifin, kontestasi pemilihan rektor bukan hanya tentang siapa yang memperoleh dukungan terbanyak, tetapi juga bagaimana persaudaraan tetap terjaga setelah proses pemilihan berlangsung. (*)

Berita Terkait
Baca Juga